Pada hari Minggu, 9 Juli 2017, aku pergi ke Tanah Lot bersama adik dan ayahku karena disana ada sebuah festival, yaitu Tanah Lot Festival. Festival itu akan terlihat megah pada saat malam hari jadi kami berangkat dari rumah pada jam 6 sore. Aku dan adikku ingin membeli makanan terlebih dahulu di jalanan menuju area festival, setelah itu kami menuju ke area panggung untuk menonton pertunjukan seni bondres yang dibawakan oleh Sanggar Cenik Lantang Tabanan dan dimeriahkan oleh Clekontong Mas, grup pelawak yang populer sampai sekarang ini.
Sesampainya di area pertunjukan, kami sibuk mencari tempat duduk agar bisa menonton pertunjukan itu, dan dengan cepat kami mengejar bila ada kursi yang kosong (bukan rebutan ya, karena pada saat itu memang tersisa 3 kursi), lalu kami duduk dengan nyaman.
Pada saat menonton pertunjukan dari sanggar lain sebelum bondres, aku dan adikku sudah bosan menunggu. Pada saat itu pukul 9 malam. Ayahku lalu menasehati dengan sabar.
"Sabar ya. Sebentar lagi ada kok."
"Bapak, pengen pulaaangggg...." keluh adikku kemudian. Aku sebenarnya tidak ingin pulang, ingin menunggu sebentar lagi.
Tak lama kemudian pertunjukan dari sanggar lain pun selesai, bondres pun bisa dimulai karena hasil dari kesabaran kami. Namun sebelum Clekontong Mas tampil, muncullah tokoh Liku sebagai peran Walunateng Dirah dan Desak Rai sebagai abdinya. Dari sana aku mulai mengerti kalau ini bukan pertunjukan bondres biasa, melainkan menggunakan cerita Calonarang. Selama berlangsungnya jalan cerita itu, adikku sudah tak kuasa lagi menahan kantuknya dan ingin pulang ke rumah.
"Mbok, pulang yuk? Aku ngantuk." keluhnya padaku. Ya aku hanya bisa pasrah, juga besok harinya kami harus sekolah, sebelum mau pulang aku hampir lupa bahwa aku harus berfoto bersama para personil Clekontong Mas, yaitu Sengap, Tompel, dan Sokir.
"Ya udah Dik, tapi kita harus foto bareng dulu sama Clekontong ya?"
Lalu aku memanggil ayahku dan bertanya, "Pak, boleh nggak Shinta sama adik foto-foto sama Clekontong dulu, habis itu bisa pulang kok."
"Hmm boleh, ayo kita ke belakang panggung. Ingat, bersikap yang sopan." jawab ayahku sambil mengingatkan kami berdua.
Sesampainya di belakang panggung, tempat dimana para personil Clekontong Mas melakukan make-up, aku dan adikku pun sangat grogi, bagaimana harus mengucapkan salam dan meminta untuk foto bersama dengan mereka.
"Mbok, duluan ya. Bilang aja mau foto!"
"Ah, nggak! Adik aja! Adik kan cowok!"
"Ayo cepet! Habis ini kita pulang!" bentak ayahku kemudian.
Lalu aku memberanikan diri untuk mengucapkan salam kepada Tompel yang bernama asli Bapak Komang Dedi Diana itu.
"Emm... Permisi, Pak Mang, saya mau minta foto..."
"Iya. Mau selfie atau ada yang fotoin?" jawab beliau sambil bertanya kembali dengan ramah.
"Sudah Bapak saya yang mau fotoin."
"Oh, disana ya?" tanya Pak Dedi sambil menoleh ke ayahku yang bersiap-siap untuk mengambil gambar kami dengan smartphone-nya. Lalu kami mulai mengeluarkan pose kami.
"Sudah? Satu, dua, tiga!"
"Mana? Mana?" kami berdua berlari melihat hasil foto yang diambil ayahku. Ya, tidak terlalu bagus. Nanti aku akan mengedit filternya semampu mungkin di rumah.
"Lumayan, Pak. Nanti Shinta edit deh."
Lalu kami berdua berterima kasih kepada Pak Dedi. "Terima kasih ya, Pak Mang!"
"Nggih mewali dik, hati-hati di jalan!" serunya dengan ramah.
Mohon maaf jika kualitas kurang baik!
Kemudian kami susul dengan menyapa Pak Nyoman Ardika, pemeran Sengap.
"Umm..., Permisi, Pak Mang." Ya, diriku kembali gugup.
"Iya? Ada apa?" tanya beliau kemudian.
"Bisa saya minta foto? Sama adik saya juga." kataku sambil menunjuk adikku.
"Oh, bisa. Mau selfie atau pake kamera belakang?"
"Mmm... selfie aja deh?" Lalu aku mengeluarkan tab Samsungku, mengeluarkan ekspresi wajah kami bertiga, lalu... cekrek!
"Bagaimana, Pak Mang?"
"Hmm, sepertinya kayak kurang terang gitu."
"Nanti saya yang akan mengedit."
"Oh, iya, tolong diedit ya!" beliau mulai mempercayakan aku untuk mengedit filter dari smartphone, dan aku sangat bersyukur.
Sebelum diedit
Sesudah diedit
"Baik, tapi boleh saya fotoan sama Sokir? Sebelumnya tolong fotoin kami ya." tanyaku sambil menoleh ke arah pemeran Sokir, namanya Pak Ketut Gede Rudita.
"Oh, boleh." jawab beliau dengan ramah, lalu memanggil Pak Ketut. "Tut, liat sini deh! Ada yang mau fotoan sama kamu."
Lalu beliau menoleh ke aku dan adikku yang sebenarnya masih grogi ini.
"Oh, iya! Sini dik!" beliau dengan ramahnya merangkul kami, dan adikku pun duduk di pangkuan Pak Ketut! Duh, kayak cuteness overload gitu! Jadi cemburu.... Dan pemeran Sengap itu bersiap-siap mengambil gambar dengan tab Samsung-ku.
"Sudah? Satu, dua, tiga!"
"Coba lihat?" Aku melihat hasil dari tangkapan gambar yang dilakukan oleh Pak Nyoman Ardika. Perfect deh! Sebelum beranjak pulang, aku dan adikku tak lupa berterima kasih kepada mereka berdua.
"Terima kasih, Pak Tut. Terima kasih, Pak Mang. Semoga sukses jobnya ya!"
Sesudah diedit
Kami berdua pun merasa lega dan ayah kami pun mengajak pulang.
"Sudah selesai? Ayo pulang!"
Aku, adikku, dan ayahku merasa sangat puas sudah berfoto dengan Clekontong Mas, dan rasa lelah menunggu akan sirna setelah melakukan tidur malam yang agak larut! Pengalaman itu akan menjadi pengalaman yang menegangkan dan berakhir seru, yang tidak akan aku lupakan selama hidupku!
Terima kasih kepada para pembaca sudah membaca cerita pendekku yang ngasal ini. Mohon maaf bila ada kesalahan kata maupun gambar yang tertera!
-Shinta
















